Belum adanya keputusan resmi soal nasib Ujian Nasional (UN) tahun depan, para pelajar, terutama siswa kelas IX SMP dan XII SMA masih bertanya-tanya, mau dibawa kemana UN 2015?
Sampai sekarang, belum ada kejelasan soal penyelenggaraan UN tahun depan, yang katanya masih bakal tetap dipertahankan sebagai ujian penentu kelulusan atau malah adanya kemungkinan dihapuskan.
Pasalnya, Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah, Anies Baswedan, secara resmi masih belum mengumumkan status tersebut, soalnya sekarang pemerintah sedang mengevaluasi ujian tahunan tersebut.
Sejauh ini, Menteri Anies mengabarkan, pada tahap awal proses evaluasi UN, ia telah berkonsultasi dengan pihak Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) selaku penyelenggara, terkait status dan tujuan digelarnya UN pada masa akhir pembelajaran kurikulum setiap jenjang pendidikan sekolah menengah.
Alhasil, banyak aspek yang ingin dilihat Pak Menteri lebih dalam. Namun, di antaranya yang paling mendesak yakni apakah UN masih akan dipakai sebagai penentu kelulusan siswa atau tidak.
"Pandangan saya kalau dari proporsi kelulusan, UN sudah bukan lagi menjadi penentu kelulusan," paparnya di kantor Kemdikbud, Kamis (20/11) lalu.
Dalam pertemuan pertama dengan BSNP itu, penggagas Indonesia Mengajar belum menghasilkan yang keputusan penting. Intinya, Pak Anies menyampaikan kalau dari pertemuan perdana yang berlangsung Kamis lalu (20/11) itu, dia menugaskan BSNP untuk mengevaluasi penyelenggaraan UN secara menyeluruh dan soal penghapusannya, dia cuma menjawab secara diplomatis. "Tapi sangat mungkin (tahun depan) tidak ada UN," jelasnya kepada beberapa media.
Namun, mantan Rektor Universitas Paramadina ini mengamati, selama beberapa tahun terakhir, kelulusan UN dianggap sudah hampir sempurna. Persentase kelulusan UN sudah mendekati angka 100 persen. Contohnya penyelenggaraan UN pada 2013/2014 April lalu. Hasil pengolahan akhir, dinyatakan 1.624.946 siswa SMA (99,52 persen) dinyatakan lulus dan 7.811 (0,48 persen) tidak lulus. Sedangkan untuk kelompok SMK ada 1.170.748 siswa (99,90 persen) lulus dan ada 1.159 (0,1 persen) yang nggak lulus.
Dengan begitu, penyelenggaraan Unas membuat para siswa belajar hanya untuk mengerjakan soal ujian. Soal pemahaman keilmuan, belum tentu diutamakan. Alhasil, anak-anak terbiasa dengan penguasaan materi pelajaran pada fase yang disebut low order thinking (berpikir level rendah).
"Padahal yang kami harapkan, para siswa itu sudah masuk fase high order thinking (berpikir lebih tinggi)," ucap Anies.
Hajatan UN Tetap Ada
Meski begitu, Pak Anies menjelaskan, dalam Undang-Undang Dasar (UUD) sudah digariskan bahwa masalah yang krusial adalah urusan pemetaan pendidikan di seluruh Indonesia yang mengharuskan UN tetap digelar demi kontrol kualitas pendidikan kita.
Dengan landasan itu, UN bukan cuma diposisikan sebagai pendukung kepentingan siswa dalam belajar, tetapi lebih tepat lagi adalah untuk mendukung pemerataan kualitas pendidikan secara nasional.
"Saya tegaskan, pendidikan jangan dijadikan penderitaan. Pendidikan harus menjadi sesuatu yang membahagiakan," papar menteri kelahiran Kuningan, Jawa Barat, tersebut.
Anies menambahkan lagi, sangat mengerikan jika dalam proses pendidikan terjadi program-program yang membuat siswa menderita. Termasuk program UN yang setiap tahun dikabarkan selalu membuat siswa cemas.
"Makanya, kami fokuskan dulu bahwa UN itu sebagai alat ukur pendidikan. Apakah pendidikan itu sudah merata atau belum," tegasnya.
Bagaimana menurut kalian? Nasib kalian mau ditentukan dari UN yang digelar tiga hari atau dari selama kalian duduk, belajar dan bersosial di lingkungan sekolah?
Source: http://hai-online.com/Hai/Feature/Skulizm/Mungkinkah-2015-Nggak-Ada-Ujian-Nasional
BY:Doddy RH Simanjuntak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar